Postingan

Aron Singuda-nguda Karo dan Langgei-langgei (Galeri Budaya Karo)

Gambar
Budaya Karo dan Globalisasi Foto ini diambil di Desa Serdang Kecamatan Barus Jahe, Karo Kenjulu. Diperkirakan pada tahun 1960-1970-an.                                         Depan: Aslin Br Barus (+), Norma Br Barus, Tina Br Sitepu(+), Lot Br Tarigan Foto ini berada di depan Lesung desa yang juga berada di samping Losd Desa Serdang. Tampak para wanita muda ini mengenakan "uis nipes" yang "dikadangkan" di bahu sebelah kanan. Ciri khas singuda-nguda dalam acara-acara tradisional memang selalu memakai langgei-langgei. Apakah ini menjadi tradisi yang telah menjadi stock knowledge bagi wanita Karo saat ini? Kita sering melihat wanita (bahkan gadis juga) sering menggunakan kain apa saja untuk menjadi cabi-cabin mereka. Kain tersebut juga dapat difungsikan sebagai tudung. Hanya saja wanita Karo sekarang tidak menggun...

Hilangnya Keragaman Pangan (Jagung) Pada Masyarakat Karo

Nama Makanan : Nakan Kapi   Oleh: Salmen S. Kembaren Sosiolog Bahan pangan: 1.          Jagung 2.          Beras 3.          Garam 4.          Air 5.          Jaba Bahan utama dalam pembuatan makanan ini adalah jagung, jagung mendominasi separuh dari seluruh bahan sereal tersebut. Makanan ini sebagai makanan berat. Cara memasaknya seperti memasak nasi biasa hanya saja dibubuhi sedikit garam. Disajikan bersama lauk lainnya apabila ada seperti sayur (gulen) dan ikan asin. Nakan Kapi (nasi kapi) menurut penuturan informan bahwa nakan kapi dikonsumsi dibawah tahun 1960-an. Nasi kapi dikonsumsi pada musim paceklik atau masa-masa menunggu panen tiba. Biasanya beras sebagai makanan pokok tidak pernah kekurangan untuk setiap keluarga, namun tidak menutup juga kemungki...

Tangkahen, Wisata Alam Perlu Perhatian Pemda Langkat

Catatan Perjalanan Wisata Salmen Kembaren Sosiolog Karo Langkat, 2 Maret 2014 Perjalanan selama 2 jam dari Bukit Lawang terasa sangat melelahkan dan membosankan. Melelahkan karena sepanjang jalanan yang kami lalui, dapat dikatakan jalanan yang sudah diaspal tidaklah lebih dari 10%. Dan membosankan karena sepanjang jalan 90% pemandangannya adalah bentangan perkebunan sawit. Benar-benar membuat jenuh. Perjalanan saya bersama 9 orang lainnya dimulai pukul 06.00 WIB dari Bukit Lawang dan tiba di Tangkahen pukul 08.25 WIB. Dua orang diantara kami adalah penduduk BUkit Lawang sebagai guide menuju lokasi. Teman-teman mencoba untuk tidur di dalam mobil, namun karena jalanan yang rusak membuat kami tidak bisa tidur. Terlihat beberapa perkampungan sepanjang perjalanan, terlihat rumah warga berdekatan, sesekali rumah ibadah.Musim kemarau panjang selama januari dan februari 2014 membuat jalanan berdebu. Kebosanan tersebut sepertinya terbayarkan dengan sampainya kendaraan kami di ...

Menyoal (Kembali) Keragaman Pangan Karo

Gambar
Bagian I Oleh Salmen S. Kembaren - Sosiolog - Staff LITBANG Moderamen GBKP - Kelompok Riset Sosiologi Antropologi Karo Makanan berkaitan dengan pengetahuan dan strategi bertahan masyarakat. Sering kita dengar masyarakat  dunia membicarakan dan khawatir akan pangan dunia. Bahkan Malthusian, mengkhawatirkan pertumbuhan masyarakat dunia yang tidak sejalan dengan pertumuhan pangan dunia yang sampai sekarang berlum terjadi. meskipun belum terjadi banyak sisi muka bumi yang kelaparan seperti di banyak negara Afrika dan Asia Selatan. Tantangan mengenai makanan (pangan) juga berimbas dengan perubahan iklim dunia yang didalamnya keadaan cuaca tidak menentu megnakibatkan produski pertanian tidak stabil. Indonesia sebagai negara agraris sendiri masih belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan pangan (belum mandiri pangan). Padahal banyak dari produk pangan yang diimpor merupakan komoditas yang dapat dikembangkan di dalam negeri. Seperti beras sebanyak 1,8 Juta Ton, jagung se...

Uis Nipes, Sederhana Tapi Bermakna

Gereja Dan Budaya (Part 1) Oleh Salmen Sembiring (Sociologist) Opini Sederhana tapi Bermakna Minggu, 27 Nopember 2013. Pukul Sembilan pagi saya hendak pergi kebaktian minggu di Gereja GBKP KM 7 Medan. Sekitar satu kilometer sebelum tiba di gereja KM 7, saya melihat rombongan ibu-ibu, dan seorang diantaranya adalan nenek tua yang juga hendak beribadah di gereja GBKP Pasar 6. Apa yang menarik di benak saya adalah pakaian yang dikenakan nenek beruban tersebut, dan hanya beliau yang berpakaian demikian. Dari atas sepeda motor yang melaju lambat saya memandangi nenek tersebut dengan perlahan, sandal jepit sederhana, sarung (kampuh), kebaya, dan satu uis nipes yang digantungkan di pundaknya. Sangat sulit ditemukan orang berkostum demikian dalam ibadah orang GBKP di kota. Apalagi kelompok pemudanya. Apa yang menarik menurut saya adalah apa yang disebut dengan memperjuangkan budaya. Saya memang tidak sempat mewawancarai nenek tersebut mengapa ia berkostum demikian ke rumah ibadah....

Kede(i) Kopi Dari Ruang Informasi dan Budaya (Demokrasi)

Kede Kopi (Opini) Salmen Sembiring   Berjalan dari Medan ke Dataran Tinggi Karo membutuhkan waktu sekitar dua sampai dua setengah jam perjalanan. Di sepanjang perjalanan yang terlintas di mata pemandang adalah hamparan pepohonan hijau dengan bukit ( uruk ) dan jurang ( embang ) sebagai latar belakang pemandangannya. Dalam hijaunya pemandangan tersebut terselang puluhan desa di pinggir jalan begitu keluar dari Medan sampai ke Kabanjahe. Dari puluhan desa yang dilalui tersebut tidak ada yang tidak memiliki kede kopi (kedei kopi). Hal ini sangat menguntungkan bagi pengendara, terutama sepeda motor atau pengendara lainnya untuk singgah tatkala   merasa lelah, macet atau hari hujan di perjalanan. Masyarakat Sumatera Timur (Utara) sebenarnya mengenal kede kopi setelah datangnya Belanda dan berbagai etnis untuk buruh perkebunan. Tanaman kopi lokal sebenarnya sudah dikenal dan sikonsumsi sebelum kedatangan Belanda, namun kede diadopsi penduduk Sumatera Timur dari tradisi...